Tampilkan postingan dengan label volcano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label volcano. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2008

akhirnya meletus juga

proses meletusx gunung kelud

Surabaya - Gunung Kelud masih tenang. Namun di balik ketenanganya itu menimbulkan sejuta misteri. Jika melihat gejala-gejala yang terjadi seharusnya sudah meletus. Namun kenyataannya belum juga meletus.

Pada tahun 1991, tak lama ditetapkan status awas, Gunung Kelud pun meletus dan menewaskan 32 jiwa. Tapi sekarang? Semua orang bertanya-tanya? Kenapa tak jua meletus, padahal aktivitas yang terjadi sudah melebih persyaratan untuk meletus.

Inilah data perjalanan status Gunung Kelud dan kawasan yang rawan menjadi amukannya yang dihimpun.

Minggu (9/9/2007)
Larung Sesaji warga dan tokoh masyarakat serta Muspida Kediri untuk mencegah bencana

Senin (10/9/2007)
Status Gunung Kelud Aktif Normal (Level 1) ke Waspada (Level II). Sehari gempa vulkanik 16 x. Suhu Kawah 33 derajat celcius. Kadar CO2 menjadi 340 ton/hari. Warna air kawah kuning keruh. Suhu udara 33 derajat celcius.

Kamis (27/9/2007)
Pukul 00.00 s/d 09.00 gempa vulkanik sebanyak 10 kali. Sebelumnya 4-5 kali sehari. Suhu danau kawah 36,5 derajat celcius di kedalaman 15 meter. Air danau kawah berwarna putih. Kadar CO2 344 ton/hari.

Minggu(30/9/2007)
Status meningkat dari Waspada (level II) ke Siaga (level III). Air danau kawah putih. Pukul 00.00 hingga 18.00 gempa vulkanik dalam 5 kali, gempa tektonik jauh 4 kali, gempa skala kecil 3 kali, suhu permukaan danau kawah 36,2 derajat celcius.

Selasa (16/10/2007)
Status dinaikan dari Siaga (Level III) ke Awas (Level IV) pukul 17.25. Kawasan Rawan Bahaya (KRB) I Radius 10 kilometer dari kawah harus bebas dari warga.

Kamis (18/10/2007)
Pukul 00.00 s/d 06.00 gempa tremor 6 kali, gempa tektonik dangkal 16 kali, suhu danau kawah 37,7 derajat celcius di kedalaman 15 meter, 37,1 derajat celcius pada kedalaman 10 meter, dan 37 derajat celcius pada suhu permukaan. Sejak pukul 07.30 WIB, 86 kali kegempaan tiap satu jam. Suhu kawah di kedalaman 15 meter 38 derajat celcius.

Jumat (19/10/2007)
Sekitar pukul 15.20 WIB memasuki detik-detik menegangkan ditandai gempa tremor terus menerus. Awan putih muncul di atas kawah. Puncak kritis selama 55 menit menimbulkan kepanikan.

Suhu kedalaman kawah 5 meter 35,6 derajat celcius, 10 meter 37,4 derajat celcius dan 15 meter mencapai 38, 1 derajat celcius. Tercatat 5 kali gempa vulkanik dangkal, 1 kali gempa tektonik jauh. Berapa kali gempa tremor antara pukul 15.00 hingga 15.50 WIB.

Sabtu (20/10/2007)
Pukul 06.00 hingga 12.00 WIB gempa tremor 3 kali, gempa tektonik dangkal menyebabkan rekahan magma kian mendekat ke permukaan kawah. Suhu air kawah di kedalaman 15 meter 38,1 derajat celcius.

Minggu (21/10/2007)
Pukul 00.00 s/d 06.00 gempa tremor 5 kali. Gempa tektonik lokal, gempa tektonik jauh masing-masing 1 kali. Suhu kawah 38,2 derajat celcius kedalaman 15 meter, 37,4 derajat celcius pada kedalaman 10 meter dan 35,5 derajat celcius pada suhu di permukaan.

Senin (22/10/2007)
Temperatur air danau kawah dan geoformasi kawah terus naik. Pukul 00.00- 18.00, 3 x gempa vulkanik dangkal, 11 x tremor dan sekali gempa tektonik lokal. 7 x gempa tektonik jauh, termasuk gempa berskala 5,4 SR yang dirasakan di Blitar pukul 06.40.

Gempa 5,4 SR berpusat di kedalaman 10 km di 8,86 derajat LS dan 111,4 derajat BT atau 115 km di barat daya Blitar. Suhu air danau kawah pada kedalaman 15 meter naik 0,1 dari hari sebelumnya menjadi 38,3 derajat Celcius. Di permukaan suhu air danau kawah 35,8 derajat Celcius. Pada kedalaman 10 meter suhu mnecapai 37,5 derajat Celcius.

Sedangkan untuk daerah rawan bahaya Gunung Kelud terdiri dari:

Kabupaten Kediri
Di empat kecamatan adalah Kecamatan Ngancar, Plosoklaten, Kepung dan Puncu. Di Kecamatan Ngancar ada empat desa yang terancam. Masing-masing Sugihwaras, Sanding, Babadan dan Sempu.

Daerah ini merupakan Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Ring I. Karena lokasinya dalam radius 10 kilometer dari titik danau kawah Gunung Kelud. Jumlah penduduk di Ngancar 5.837 jiwa

Kecamatan Plosoklaten hanya ada satu desa yang terancam, yaitu Desa Sepawon. Jumlah penduduknya di kecamatan ini 5.681 jiwa. Namun sebenarnya ada 4 desa lagi.

Kecamatan Puncu, yang terancam Desa Puncu, Sumberejo dan Sonorejo.Jumlah penduduknya di kecamatan ini 6.686 jiwa.

Kecamatan Kepung, yang terancam Desa Kebonrejo, Kebunduren dan Besowo. Jumlah jiwanya ditaksir mencapai 8.000 jiwa.

Kabupaten Blitar
Titik lokasi pengungsian di Kecamatan Garum, Gandusari dan Nglegok. Daerah ini tergolong KRB II, berjarak kurang dari 10 kilometer dari Gunung Kelud. Jumlah penduduk di kawasan KRB II sebanyak 90.642 jiwa. Daerah ini rawan terkena langsung muntahan lahar serta material seperti batu, abu maupun awan panas.

Di KRB III dengan jarak 7 -10 Km) terdapat 160.988 jiwa dari 8 Kecamatan.Yakni Kecamatan Ponggok, Srengat, Wonodadi, Udanawu, Kanigoro, Talun dan Wlingi.
Kawasan ini terbebas dari sedimen Kelud. Tetapi terancam luapan aliran lahar panas maupun dingin. Karena aliran lahar dari puncak Kelud diperkirakan bisa mencapai kawasan ini dalam waktu dua jam. Pemkab mengalokasikan dana penanganan Rp 10 miliar.

Kabupaten Malang
Satlak PB Kabupaten Malang menetapkan delapan titik evakuasi. Tempat evakuasi adalah seluruh balai desa yang termasuk dalam KRB I.

Delapan desa yang masuk KRB I adalah: Kecamatan Ngantang: Desa Pandan Sari, Banturejo, Ngantru, Sidodadi dan Desa Margersari. Kecamatan Kasembon adalah Desa Pondok Agung, Bayem dan Sukosari. Pemkab mengalokasikan dana untuk penangangan bencana Rp 3,5 miliar.

gunung meletus

penyebab tsunami karena gunung meletus?

Tsunami (bahasa Jepang: 津波; secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, atau hantaman meteor di laut. Tenaga setiap tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Dengan itu, apabila gelombang menghampiri pantai, ketinggiannya meningkat sementara kelajuannya menurun. Gelombang tersebut bergerak pada kelajuan tinggi, hampir tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut (misalnya) saat melintasi di laut dalam, tetapi meningkat ketinggian hingga mencapai 30 meter atau lebih di daerah pantai. Tsunami bisa menyebabkan kerusakan erosi dan korban jiwa pada kawasan pesisir pantai dan kepulauan.
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
Kebanyakan kota di sekitar Samudra Pasifik, terutama di Jepang juga di Hawaii, mempunyai sistem peringatan dan prosedur pengungsian sekiranya tsunami diramalkan akan terjadi. Tsunami akan diamati oleh pelbagai institusi seismologi sekeliling dunia dan perkembangannya dipantau melalui satelit.
Bukti menunjukkan tidak mustahil terjadinya megatsunami, yang menyebabkan beberapa pulau tenggelam.

gunung krakatau 2

Krakatau adalah gunung berapi yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat. Suara letusan Gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi
atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan
Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.
Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.
Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan
andesitik.
Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks
Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:
"Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera"

Pakar geologi B.G. Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai
Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.
Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.
Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung
Rakata yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan
lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-28 Agustus 1883.
Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geoghrapic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluh-lantakkan dalam sejarah manusia moderen. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 peduduk bumi saat itu.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Sedangkan buku The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.
Selain itu, ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke
Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.
Akibat letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung
Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.
Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari
Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung layar di Pulai Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.

Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Kakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya selitar 20 inchi per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tiggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitu, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak rakata mencapai 7.500 inchi atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.
Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan in bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
Menurut Profesor
Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya.

gunung krakatau

Tiga bulan sebelum gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883, sebuah kapal pesiar Elizabeth mengumumkan rencana perjalanan wisata ke Gunung Krakatau. Pengumuman ini langsung disambut para bangsawan Eropa yang ada di Batavia, Bogor, dan Jawa Tengah untuk menyaksikan fenomena alam gunung yang berada di Selat Sunda tersebut. Sebanyak 86 tiket seharga 25 guilder langsung habis untuk keberangkatan wisata yang berlangsung pada 26 Mei 1883 tersebut.

Ketertarikan para turis asing ini karena keingintahuan mereka pada gunung Krakatau. Diketuhui, sebelum kapal wisata tersebut berlayar, Krakatau sudah mengalami 2 kali letusan yang cukup dahsyat sepanjang Mei 1883.

Pada 9 Mei 1883, atau 17 hari sebelum perjalanan wisata tersebut, Krakatau mengeluarkan letusan yang maha dahsyat. Bahkan getarannya hingga terasa menggoyangkan mercusuar yang ada di tepi Pantai Anyer. Seorang petugas pemantau saat itu mengabarkan, bahwa kepulan asap dan debu yang keluar dari Krakatau mencapai 11.000 meter.
Letusan ini berlanjut hingga sepekan sebelum keberangkatan Elizabeth. Seorang pendeta yang sedang berlayar melintasi Selat Sunda menyaksikan letusan itu dan mencatatkan kejadian ini dengan sebuah prosa menarik. Pendeta itu mendefinisikan kepulan asap disertai debu yang keluar dari Krakatau saat itu bagaikan bunga kol yang menggumpal di sebuah puncak pegunungan yang hijau.

Dua peristiwa yang berlangsung sepanjang Mei tersebut ternyata menjadi daya tarik orang-orang untuk mengunjungi Krakatau. Walau tak sempat melepas sauh hingga ke tepi Krakatu, Elizabeth menyediakan perahu kecil bagi wisatawan yang hendak menjejakkan kakinya ke tanah Krakatau. Demikianlah Simon Winchester yang menceritakannya padaku melalui bukunya ‘Krakatau, Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883′.

POTENSI ATAU ANCAMAN
Saat ini Gunung Anak Krakatau yang merupakan pecahan dari letusan Gunung Krakatau sedang menunjukkan aktivitasnya. Sejak akhir Oktober lalu, aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami beberapa kali letusan vulkanik A, vulkanik B, dan tremor (gempa terus-menerus). Pemprov Banten melalui Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah pun sudah mengimbau masyarakat untuk waspada tapi tak perlu risau dengan kejadian ala mini. Masyarakat diminta untuk mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.

Bagi sebagian orang, letusan yang pada malam hari mengeluarkan pijar ini dianggap sebagai sebuah ancaman. Peristiwa tsunami di Nangroe Aceh Darussalam yang menelan korban hingga ratusan ribu jiwa menjadikan sebagian masyarakat trauma. Sehingga mereka juga kerap mengkhawatirkan, letusan Gunung Anak Krakatau itu bisa menjadi pertanda bakal datangnya tsunami.

Padahal pada sebagian masyarakat lainnya, terutama warga setempat, letusan yang terjadi di Gunung Anak Krakatau tersebut sebagai fenomena alam biasa. Bahkan mereka kerap penasaran untuk menyaksikan kejadian alam ini. Sehingga masyarakat sering begadang untuk melihat pijar yang keluar dari letusan anak Krakatau.

Ketakutan yang berlebihan pada aktivitas Gunung Anak Krakatau ini ternyata berdampak buruk pada dunia pariwisata di sepanjang Pantai Anyer hingga Pandeglang. Kabar meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau usai tsunami di Aceh pada Desember pada 2004, sempat meluluhlantakan dunia pariwisata yang terkenal dengan keindahan pantainya ini. Tingkat hunian hotel di kawasan wisata ini merosot hingga titik nadir yang mengkhawatirkan.
Turunnya kunjungan wisata ini tentu saja berdampak pada pendapatan ekonomi warga setempat yang menggantungkan penghidupannya pada pariwisata. Para pemandu wisata, pedagang, penyewa ban, pemilik penginapan, rumah makan, dan ragam jasa wisata lainnya nyaris mati suri akibat kekhawatiran terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Tanpa berkehendak melawan kekuatan alam, kekhawatiran yang berlebihan ini seharusnya tak terjadi. Sudah berulangkali dikabarkan, hingga saat ini belum ada teknologi dan pengetahuan yang bisa memastikan kapan datangnya gempa yang bisa menimbulkan tsunami. Bencana itu bisa datang kapan saja dan di mana saja. Yang perlu dilakukan adalah kewaspadaan dan kesadaran masyarakat untuk bisa mengambil langkah cepat dalam mengantisipasi datangnya bencana.

gunung pinatubo

Letusan gunung Pinatubo tahun 1991.
Letusan gunung Pinatubo tahun 1991.
Gunung Pinatubo adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Luzon, Filipina, di perbatasan provinsi Zambales, Tarlac, dan Pampanga. Gunung ini meletus pada tahun 1991, lebih dari 490 tahun setelah aktivitas erupsi yang terakhir kali terlihat,[1] yang merupakan letusan terbesar kedua[2] di abad ke-20. Prediksi atas letusan ini awalnya berhasi,l sehingga puluhan ribu orang mengungsi dari gunung ini dan menyelamatkan banyak jiwa. Tetapi daerah sekitar gunung tersebut hancur karena aliran piroklastik, abu dan lahar.

Arenal Volcano Costa Rica

The Arenal Volcano is the only volcano in Costa Rica constantly active since it woke up after 400 years with the big 1968 eruption producing huge ash columns, explosions & glowing red lava almost every day. It is considered one of the ten most active volcanoes in the world. This country is about beaches, rainforest and the spectacular Arenal.

Arenal Volcano